Hyuk Jae-Hyun Joo : Problem

large (4).jpg

Apa yang kau pikirkan tentang cinta? Apa itu adalah suatu hal yang suci? Lekat dengan suatu hal yang berbau  romantis? Sekumpulan kata yang disatukan menjadi bait puisi dan lirik lagu? Atau itu adalah suatu keharusan untuk dua orang yang saling memiliki rasa?

Bagiku semua itu tidak lah benar.

Bagiku, cinta hanyalah huruf yang disusun menjadi satu kata. Maksud dan arti nya yang selalu di elu-elukan banyak orang hanyalah bohongan. Dan aku tak cukup untuk mempercayainya.

Bagiku, cinta adalah seperti Appa dan eomma. Yang keduanya sibuk. Ambisius. Mementingkan urusan diri sendiri. Egois. Dan entahlah, ada kasih sayang atau tidak.

Dimulai dari kelas enam sekolah dasar, sampai sekarang aku berumur dua puluh empat tahun. Aku selalu mempertanyakan hal itu. Iya,itu.

Adakah rasa kasih sayang antara kedua orang tua ku?

Mungkin itu memang ada. Namun, bergulirnya waktu rasa itu memudar dan tergerus oleh jaman.

Tapi mungkin juga, rasa itu memang tidak pernah ada. Sampai akhirnya aku lahir hanyalah hasil dari sebuah nafsu diantara keduanya.

 Hidup memang terlalu sulit, bahkan sampai sekarang pun aku selalu merasa ini terlalu sulit dan pelik mencekik.

Aku selalu bertanya pada Tuhan, apa yang harus aku lakukan?

Telah melakukan dosa besar apa aku selama ini sampai akhirnya merasakan ini semua?

Keluarga yang penuh kepalsuan. Tak ada rasa tulus yang dapat dirasakan. Bukan kah itu menyedihkan?

 

 

 

Hyuk Jae menutup buku tebal bersampul cokelat itu dengan helaan nafas berat. Menatap sebentar buku itu dan meletakannya diatas nakas samping tempat tidur. Itu buku diary milik Hyun Joo. Milik gadis kesayangannya yang ia temukan sedang terbuka disamping kepala pemiliknya yang sudah tertidur bertelungkup diatas tempat tidur.

Gadis itu pasti sedang tidak baik-baik saja. Apalagi, setelah pertemuan mereka berdua di kafe dua hari lalu, Hyun Joo seperti menghilang dan tak sekalipun menghubungi Hyuk Jae. Dan begitupun sebaliknya, Hyuk Jae harus bertolak ke China malam itu juga dan baru saja kembali satu jam yang lalu. Itu pun ia langsung mendatangi apartment gadis ini yang keadaan kamarnya sudah seperti kapal pecah.

Menyedihkan. Ada barang-barang pecah beling yang sudah berserakan dan sudah tak berwujud, dan ada juga buku-buku kesayangan gadis itu yang sudah tergeletak naas diatas lantai. Keadaan gadis itu pasti sedang kacau-kacaunya, dan Hyuk Jae tak henti-hentinya menyalahkan diri sendiri karena ia tak bisa menemani gadis itu disaat-saat terpuruknya.

Sekali lagi, Hyuk Jae menghela nafas dengan berat. Dengan pelan, ia membalikan tubuh gadis itu agar ia dapat tidur dengan nyaman tanpa harus bertelungkup yang dapat menyesakan nafasnya. Gadis itu tak bangun, hanya melenguh dengan pelan dan kembali tertidur dengan rambut panjangnya yang sudah berantakan seperti nenek sihir.

Hyuk Jae sempat tersenyum, ia merapikan rambut Hyun Joo dan menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga sebelum akhirnya ia menarik selimut untuk menghangatkan gadis itu.

“Sesulit itu ya untuk menghubungi ku? Dan semudah itu kau menyimpan ini semua dari ku?”

Hyuk Jae menatap gadis itu. Memperhatikan dengan lekat wajah cantik Hyun Joo. “Berulang kali aku sudah mengatakannya Joo-ah. Sesibuk apapun diriku, aku akan selalu bersedia menampung semua keluh kesah mu. Jangan pernah ragu untuk membagi beban mu. Selama ini kau sudah terlalu sering menampung beban orang-orang yang kau sayangi”

Hyuk Jae mengeluarkan tangan gadis itu. Digenggamnya.  “Kapan pun kau membutuhkan ku, aku ada untukmu, Joo-ah”

“Tidurlah yang nyenyak, sayang. Aku akan tidur di ruang tengah” Hyuk Jae tersenyum. Ia melepas genggamannya dan bangkit. Menyempatkan mencium puncak kepala gadis itu dan sudah bersiap untuk keluar kamar.

“Hyuk disini saja” Hyun Joo membuka kedua matanya. Menahan lengan gadis itu dan tersenyum penuh harap kepada Hyuk Jae.

“Temani aku” gadis itu sudah menggeser sedikit tubuhnya, memberi ruang untuk Hyuk Jae tidur.

Hyuk Jae melepas tangan Hyun Joo, tersenyum. Dengan segera ia naik keatas tempat tidur Hyun Joo. Memberikan lengan kirinya sebagai bantalan gadis itu dan membiarkan Hyun Joo mendekat dan bersembunyi dibalik dada bidangnya.

“Peluk aku Hyuk”

“Tentu, dengan senang hati” Hyuk Jae mendekap tubuh mungil Hyun Joo. Dan dalam hitungan detik, Hyuk Jae dapat merasakannya. Merasakan air mata Hyun Joo. Merasakan tubuh gadis itu bergetar karena terisak. Dan yang dapat Hyuk Jae lakukan hanyalah berusaha agar gadis itu tetap merasa nyaman. Dengan pelukannya. Dengan tepukan pelan di punggung rapuhnya.

“Menangis lah hanya dengan ku Joo-ah” Hyuk Jae memberikan lagi ciuman di puncak kepala gadis itu.

 

 

****

 

 

Seorang pria paruh baya itu membuka pintu bercat putih dihadapannya dengan pelan. Berusaha masuk ke ruangan itu tanpa menimbulkan suara sekecil apapun. Matanya langsung menangkap dua orang manusia yang masih tertidur dengan pulas. Dalam suasana yang temaram karena lampu dimatikan, ia tersenyum. Ia menyuruh satu pengawalnya yang sedari tadi mengikutinya untuk keluar ruangan. Dengan patuh, pria berjas hitam lengkap dengan earphone yang menempel pada telinganya itu menuruti kemauan Tuannya.

Pintu sedikit tertutup. Pria paruh baya itu semakin memasuki kamar itu dan berhenti disamping ranjang tempat tidur. Tak melakukan apapun. Ia hanya memperhatikan wajah malaikat putri kesayangannya yang kini tampak tenang dalam pelukan seorang pria. Sesekali helaan nafas berat terdengar dari pria baruh baya itu,seolah hal itu dapat meringankan beban berat yang kini sedang dipikulnya.

Jarum jam terus bergerak menunjukan pukul tiga pagi. Berarti sudah hampir sepuluh menit pria itu berdiri di sana tanpa melakukan apapun. Sampai akhirnya, pengawalnya masuk kembali dan berjalan menghampirinya.

“Pesawat akan siap tiga puluh menit lagi, tuan” bisik pengawal itu. Pria paruh baya itu mengangguk, lalu kembali pengawal itu menunduk patuh dan keluar dari ruangan.

Pria paruh baya itu menghela nafas berat lagi. Sampai akhirnya, ia mengguncang tubuh pria yang sedang tertidur sembari memeluk putrinya dengan erat dan tersenyum ketika pria itu berhasil membuka mata.

“Hyuk Jae-ssi, ada hal yang harus ku bicarakan dengan mu”

 

****

 

Hyuk Jae berhasil melepaskan pelukannya pada Hyun Joo, dan bersyukurlah karena gadis itu tak membuka kedua matanya merasa terganggu. Masih dengan kemeja kerjanya yang sudah kusut, Hyuk Jae membuka pintu kamar gadis itu dan langsung menangkap tubuh pria paruh baya yang kini duduk di kursi ruang makan. Ditemani dengan secangkir teh yang asap kecilnya masih terkepul dan terlihat dengan jelas.

“Duduklah Hyuk Jae-ssi”

Hyuk Jae mengangguk. Ia menarik kursi di hadapan pria itu dan tersenyum kikuk setelahnya. “Paman sebelumnya aku minta maaf karena harus menemani Hyun Joo—–“

“Tidak. Kau tidak perlu minta maaf. Aku tahu Hyun Joo pasti sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja. Dan aku bersyukur setidaknya, kau selalu ada untuknya. Maaf kalau aku selalu merepotkan mu untuk menjaga putri ku ne?” Pria paruh baya itu menyesap teh nya dengan pelan. Hyuk Jae masih dengan senyum kikuknya.

“Kau sudah tahu apa masalahnya kan?”

Hyuk Jae mengangguk. “ya, paman”

“Persidangan perceraian ku sudah ditetapkan”

Hyuk Jae menatap pria paruh baya itu terkejut. “Paman, tapi tidak—-“

“Kami tidak bisa mempertahankan pernikahan ini lagi. Semua akan makin terluka jika kami mempertahankannya. Termasuk Hyun Joo”

Hyuk Jae hanya mampu menatap pria paruh baya itu.

“Sebelum persidangan cerai dilaksanakan, boleh aku meminta satu permintaan pada mu?”

“Apa paman?”

“Nikahi Hyun Joo”

“Apa?”

“Tolong nikahi Hyun Joo, anak ku”

Setelahnya Hyuk Jae hanya tersenyum tak yakin dan membiarkan pria paruh baya itu menatapnya dengan penuh harap

 

****

 

“Hyuk, bisa tolong tutup gordennya?”

Sinar matahari yang menerobos masuk melalui gorden tipis putih itu jelas menganggu Hyun Joo yang enggan sekali membuka mata. Ia malah tenggelam dalam selimut tebalnya dan berguling kesana-kemari berusaha agar sinar matahari itu tak mengenai tubuhnya.

“Hyuk?”

Tidak ada balasan.

“Hyuk Jae?”

Tidak ada balasan juga.

Dengan cepat ia menyibak selimut dan terduduk setelahnya. Menyusuri setiap sudut kamarnya dan menyadari bahwa pria bernama Lee Hyuk Jae memang sudah tidak ada dalam ruangannya. “Ia sudah pulang ya?”

Mengucek kedua matanya, menggulung rambut panjangnya dengan asal dan akhirnya turun dari ranjang empuknya dan berniat untuk mengisi perutnya yang tak kena makanan apapun dari kemarin. “Astaga! Kemarin aku menjadi monster ya? Kamar ku berantakan sekali sih”

Bak orang yang lupa ingatan, Hyun Joo malah mengangkat bahunya dengan acuh dan keluar meninggalkan ruangan favoritnya.

Hyun Joo berniat akan membuat pangsit goreng sebagai menu sarapannya, tapi niatnya menuju dapur terhalang karena matanya lebih dulu menangkap sosok Hyuk Jae yang tidur meringkuk di sofa ruang tengah. Gadis itu lebih dulu mengarah kesana. Tersenyum senang, dengan cepat ia langsung meringsek masuk kedalam pelukan pria itu. Membuat Hyuk Jae merasa terusik dan ikut tersenyum setelahnya.

“Aku senang ternyata kau masih di sini”

Hyuk Jae diam, masih dengan kedua matanya yang terpejam ia malah menciumi puncak kepala Hyun Joo. Membuat gadis itu makin kegirangan.

“Pelukan mu selalu hangat. Aku suka”

Hyuk Jae mendecak. “Kalau begitu jadilah kekasihku”

“Untuk apa? Begini saja aku dapat memeluk mu”

Hyuk Jae membuka mata ia menatap kedua bola mata gadis itu yang kini mendongak ke arahnya. Rasanya gemas sekali, ingin ia memajukan wajahnya dan menciumi bibir tipis gadis itu dengan gemas, tapi akhirnya ia selalu tak mampu untuk melakukannya. “Kau tidak dapat memeluk ku lagi saat ku memiliki kekasih nantinya”

Hyun Joo mendelikan matanya malas, dengan cepat ia mendorong tubuh pria itu dan bangkit setelahnya. “Kau tak boleh memliki kekasih. Kau kan sudah bersama ku”

“Sudah sana buat sarapan. Aku mengantuk. Bangun kan aku kalau semuanya sudah siap oke?” Hyuk Jae terkekeh,ia kembali menarik selimut tipis yang memang selalu tersedia di ruang tengah dan berbalik memunggungi Hyun JOo yang masih menatapnya kesal.

“Kau menyebalkan, Hyuk. Tapi aku selalu menyukai mu”

Hyuk Jae tersenyum, dalam hitungan detik ia sudah kembali terlelap dan memasuki dunia mimpinya.

 

****

“Masakan mu semakin lama semakin enak rasanya. Kini sepertinya aku tak perlu lagi takut akan mati setelah memakan masakan mu. Benar kan?”

Hyun Joo menatapnya acuh, gadis itu memakan makanannya dengan lahap tak memperdulikan Hyuk Jae yang kini sibuk menatapnya tanpa memperdulikan sarapan yang sudah tersaji dihadapannya.

“Makan yang banyak, setelah ini kita harus membereskan kamar mu oke?”

“Tidak, aku akan menghubungi Ahjumma shin untuk membereskannya”

“Ayolah, jangan biarkan orang lain membereskannya”

“Aku malas”

“Akan ku bantu”

“Tidak mau”

“Memang kau mau melakukan apa?”

Hyun Joo menaruh sumpitnya. Ia tampak berpikir dan tersenyum setelahnya. “memeluk mu seharian”

Hyuk Jae hanya tersenyum mendengarnya.

 

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Hyuk Jae-Hyun Joo : Problem

  1. Jung Haerin says:

    Jadi ini yg sista bilang kaya anak alay gitu, hts ceritanyaaa, wkwkwkwkwk
    Sudahlah nikah saja, drpd nanti hyunjoo keburu direbut orang, makin dahsyat deh ceritanya, hehehehehe
    Apdetan ini aku tunggu pke banget, saking gabutnya libur lebaran ga ada kegiatan 😂😂😂
    Ohya, mohon maaf lahir n batin ya sistaaaa, maaf yaaa klo suka komen yg ga sopan n menyinggung dirimu 🙏🙏🙏

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s